Thursday

POLA PERTUMBUHAN SEORANG PUTERA

POLA PERTUMBUHAN SEORANG PUTERA

Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
Lukas 2:52

Membaca:
Bacalah Lukas 2: 42-52 dengan sikap hati yang berdoa untuk menerima pencerahan dari Allah dalam saat teduh hari ini.
Merenungkan:
Y
esus adalah pribadi Allah yang menjelma menjadi manusia. Ia sungguh Allah dan sungguh manusia.[i] Sebagai manusia Ia menghadapi segala godaan dan masalah sama seperti kita. Setiap saat Ia menghadapi tantangan apakah menggunakan kuasa yang ada pada-Nya untuk diri sendiri atau taat kepada kehendak Allah Bapa. Hanya saja Ia tidak berdosa (Ibr. 4:15). Itulah sebabnya Ia luar biasa layak menjadi model pionir (Archegos) dan Guru Agung kita (Kis. 3;15; Ibr. 2:10; 12:2).
Sewaktu masih remaja dan belum mengenal Tuhan Yesus, saya suka membaca cerita silat berseri karangan Asmaraman S. Kho Ping Hoo.[ii] Dalam banyak cerita yang ditulisnya, pola yang umum terjadi adalah seorang guru silat yang hebat menurunkan ilmunya kepada sang murid. Biasanya sang murid adalah orang pilihan dan sudah melewati berbagai ujian. Tapi kebiasaan yang lazim dalam dunia persilatan adalah tidak menurunkan seluruh ilmunya kepada sang murid. Ada satu jurus rahasia yang sengaja disimpan untuk keamanan jiwa sang guru. Sehingga jika sang murid memberontak atau berkhianat, gurunya dengan jurus rahasia itu tetap dapat menaklukkan sang murid. Kebiasaan itu diturunkan dari generasi ke generasi. Sehingga semakin muda generasinya, kualitas ilmu silatnya semakin rendah. Semua ini terjadi karena Sang guru tidak punya rasa aman yang sejati.  Itu sebabnya, ketika ada pendekar silat yang tak terkalahkan dan sebelum meninggal sempat menulis seluruh ilmunya dalam suatu kitab; kitab itu bisa diperebutkan diantara para pendekar yang ingin menguasai dunia persilatan. Demi memiliki kitab itu, mereka tidak segan untuk mengorbankan nyawa orang lain. Bahkan jika terdesak, rela mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Yesus sangat berbeda. Rasa aman-Nya ada di dalam Allah Bapa. Ia begitu mengasihi kita sehingga memberikan seluruh yang ada pada-Nya kepada kita. Full live-Die empty. Tanpa sisa. Ia menyatakan:
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Matius 16:19)
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yohanes 14:27)
Like father, like son. Tindakan Yesus yang sangat murah hati ditiru oleh murid kesayangan-Nya, yang pernah menyangkal-Nya; rasul Petrus.
Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah. Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah. Mereka menatap dia dan Petrus berkata: "Lihatlah kepada kami." Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kisah Para Rasul. 3:1-6)
Luar biasa ! Atas hikmat Roh Kudus, Rasul Petrus memberi kail kepada laki-laki yang lumpuh itu. Bukan ikan. Itulah hal yang terbaik yang dapat diberikan seorang rasul kepada seorang laki-laki yang lumpuh, yaitu kaki-kaki yang sehat dan kuat.
Nah, bagaimana pola pertumbuhan dari Yesus Kristus? Ada empat hal yang menjadi pola pertumbuhan Yesus Kristus.[iii] Yaitu bertumbuh dalam buah Roh Kudus, disiplin dalam kehidupan, ketaatan kepada kehendak Allah dan Firman-Nya, dan pengalaman yang mendewasakan.
Pertama, Yesus bertumbuh dalam buah Roh Kudus. Rasul Paulus dalam surat-suratnya selalu mempertentangkan antara  keinginan daging versus keinginan roh (Rm. 8:6; Gal. 5:16-17). Perbuatan daging (Gal. 5:19-21) versus buah roh (Gal. 5:22-23). Buah Roh yang bertumbuh akan mematikan pertumbuhan buah daging. Berlaku juga sebaliknya.
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Galatia 5:22-23)
Kasih Yesus dinyatakan ketika Ia memberikan diri-Nya sebagai korban untuk menebus dosa kita semua (Yoh. 3:16). Yesus bersukacita ketika domba yang hilang sudah ditemukan (Mat. 18:13). Yesus adalah sumber damai sejahtera (Yoh. 14:27). Ia sangat sabar (Luk. 13:18).  Ia murah hati. (Mat. 20:15)  Penuh dengan kebaikan (Mat. 4:23; 9:35). Ia setia (1 Kor. 1:9). Lemahlembut (2Kor. 10:1). Ketika dihina dan dicaci-maki, ia menguasai diri-Nya. (Mat. 26:52-53).
Kedua, Yesus bertumbuh dalam disiplin selama hidup-Nya yang singkat di muka bumi. Ia dicobai (Mat. 4:7). Ditolak (Yoh. 19:6). Disalahmengerti (Mat. 9:34). Dimusuhi (Mat. 14:12). Dikhianati (Luk. 22:48; Mat. 26:74). Menderita (Rm. 8:17). Dianiaya (Mat. 27:1-29). Dihina (Mat. 27:40).  Orang yang ingin sungguh-sungguh bertumbuh menyerupai Yesus Kristus pasti akan mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan dalam hidupnya (2Tim. 3:12). Ia perlu mengembangkan sikap disiplin supaya tetap fokus dan mampu berlari sampai kepada tujuan (Flp. 3:14). Rasul Paulus mengingatkan:
Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. (2Petrus 1:5-8)
Dalam konteks disiplin untuk pertumbuhan rohani ini, semakin dalam mempelajari pribadi dan kehidupan Yesus Kristus yang dinyatakan dalam keempat Injil, saya semakin yakin akan kesesatan ajaran yang sangat populer selama 25 tahun terakhir, yaitu Teologi Kemakmuran. Injil menghendaki kita disiplin, bertanggungjawab dan bertumbuh dewasa dengan mengikuti pola pertumbuhan Yesus (Rm. 8:29; 12:2; 2Kor. 3:18; Flp. 3:10). Jadi masa hidup kita di dunia adalah masa persiapan menuju hidup kekal, memaksimalkan segala potensi dan menjadi dewasa rohani serta siap menjadi mempelai Kristus. Dengan demikian kita harus selalu bertekun dan siap untuk memerintah bersama Dia dalam kehidupan kekal (2 Tim. 2:12). Alkitab jelas sudah memerintahkan kita untuk memberitakan salib Kristus (Kis. 5:30-32; 10:39; 1Kor. 1:18). Memikul kuk (Mat. 11:29). Ikut menderita dan memikul salib, seperti diri-Nya (Gal. 6:12, 14; Flp. 3:18; Ibr. 12:2; 1Pet. 2:21). Menyalibkan keinginan daging, keinginan mata (dunia) dan kesombongan hidup (Iblis) (1 Yoh. 2:16). Supaya kita bisa bertumbuh sehat dalam anugerah-Nya yang berlimpah. Akhirnya hidup kita benar-benar merdeka (Yoh. 8:36). Sebagai anak-anak Allah kita bisa mendapatkan hak sebagai ahli waris jika kita sudah dewasa. Alkitab mengatakan: Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Roma 8:17). Jelas, kita akan menerima janji-janji Allah jika kita menderita bersama-sama dengan Yesus.  Tapi Teologi kemakmuran mengajarkan dan memotivasi daging kita untuk fokus pada dunia yang sementara dan melupakan tanggungjawab kekekalan. Yaitu hidup kaya, sehat, nyaman, dan makmur di dunia ini dengan memanfaatkan pengorbanan yang sudah dilakukan Yesus dengan motivasi kesombongan yaitu untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ikut Tuhan Yesus itu menguntungkan/diberkati secara fisik dan materi duniawi. Teologi Kemakmuran memotivasi kita menikmati berkat-berkat Allah Bapa yang berlimpah dan ingin dimuliakan bersama-sama dengan Yesus dalam kehidupan kekal tanpa usaha menyangkal diri dan memaksimalkan potensi diri. Malah banyak Hamba Tuhan dalam Teologi Kemakmuran dengan bangga memberi contoh kepada jemaat bagaimana cara efektif melarikan diri dari tanggungjawab memikul salib. Mereka secara rohani mendemonstrasikan bagaimana cara meminta Yesus kembali memanggul salib itu dan ramai-ramai menyalibkan Dia untuk kedua kali (Ibr. 6:6) Ini jelas berlawanan dengan ucapan Yesus yang mengutamakan harta sorgawi yang bersifat kekal (Mat. 6:19; Mat. 13:46). Ajaran yang terang-terangan menyangkal, menentang pernyataan dan perintah Yesus; sudah jelas diinspirasikan oleh dunia dan kedagingan atau lebih tepat lagi, berasal dari musuh-Nya, yaitu Iblis sendiri. Terbukti dari fakta yang ada dilapangan. Hamba Tuhan yang terkait kasus kepercayaan dan integritas; yaitu masalah penyalahgunaan uang, penyalahgunaan kekuasaan, perselingkuhan, masalah homoseksual, bermain-main dengan pelacur, mayoritas berasal dari gereja-gereja atau Penginjil Televisi (televangelist) yang menerapkan Teologi Kemakmuran (Mat. 12:33; Luk. 6:44; Why. 14:18).  Dalam hal ini, Teologi Kemakmuran cukup berhasil dalam mencapai misi rahasianya yang ditunggangi Iblis; yaitu mematikan pertumbuhan iman para pengikut Yesus yang masih bayi rohani serta membuat Injil dan Kekristenan dipermalukan.
Setiap kemakmuran harus berlandaskan atau diikuti dengan sikap bertanggungjawab dan karakter yang dewasa. Kalau tidak, dapat dipastikan akan bernasib seperti anak yang hilang (Luk. 15:11-32). Perhatikan hidup orang-orang yang baru memenangkan lotere yang tidak dewasa karakternya. Mayoritas setelah beberapa waktu, kondisinya lebih buruk dan lebih rusak daripada sebelum menerima lotere. Padahal sepanjang sejarah gereja, kekristenan justru tumbuh dalam masa sengsara dan penganiayaan. Dihambat, tapi malah merambat.[iv] Coba analisa. Negara-negara yang menganggap diri Kristen yang paling makmur adalah negara yang paling korup/rusak kehidupan moralnya. Sodom dan Gomorah modern.  Dosa yang jelas-jelas dibenci Allah dan ditentang Alkitab malah disahkan oleh negara.[v] Pola berpikir dibutakan Ilah zaman ini sama dengan anak-anak yang tidak pernah dewasa (Ibr. 5:12). Hidup seperti ini adalah hidup yang paling malang (1 Kor. 15:9). Para penganut teologi ini, kalau tidak sungguh-sungguh bertobat, dan kembali kepada Injil yang sejati, hampir dipastikan akan tertinggal dalam pengangkatan ketika Yesus datang kedua kali sebagai Raja. Yesus hanya akan menjemput calon mempelai yang sudah dewasa dan siap sedia (Mat. 25:10). Anak-anak pemberontak yang tidak pernah dewasa yang memilih untuk hidup bersantai-santai dan fokus menikmati dunia serta segala isinya tidak layak menjadi mempelai-Nya. Sehingga sangat logis jika orang-orang yang ditinjau dari waktu seharusnya sudah jadi pengajar (Ibr. 5:12); tapi dengan kehendak bebas memilih untuk menjadi tunagrahita[vi] rohani ini, akan masuk ke dalam masa aniaya besar. Secara alamiah, masa aniaya diperlukan supaya mereka yang masih anak-anak rohani dapat bertumbuh dewasa. Jadi sekarang sidang pembaca, Anda bisa memilih. Mau berdisplin dan bertumbuh sekarang dengan menyalibkan diri dari keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, atau lari dari salib; tapi didisiplinkan oleh Antikristus dan para pengikutnya.
Ketiga, Yesus bertumbuh dalam ketaatan. Yesus bertumbuh dalam ketaatan melakukan kehendak Bapa-Nya. Perhatikan kalimat berikut:
·         Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. (Yohanes 4:34).
·         Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 5:30)
·         Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. (Yohanes 6:38)
Yesus taat dan menghormati orangtua-Nya: Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. (Lukas 2:51).
Bahkan sebelum mati, dalam kondisi tubuh yang sangat nyeri karena masih tergantung di atas kayu salib, Yesus masih memikirkan orangtua-Nya dan meminta Yohanes mengurus ibu-Nya ketika ia mati. “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yohanes 19:26-27).
Itulah sebabnya Rasul Paulus menulis: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:5-11).
Keempat, Yesus bertumbuh dalam pengalaman yang mendewasakan. Pepatah mengatakan: Pengalaman adalah guru yang terbaik. Saya tambahkan: yang termahal. Untuk mempelajari keahlian teknis, kita bisa belajar dari pengalaman orang lain atau berlatih melalui simulasi atau simulator[vii] untuk mempersingkat waktu belajar kita. Tapi untuk pertumbuhan karakter dan kepekaan suara Roh Kudus, tidak ada jalan pintas. Kita harus menjalani sendiri. Ada orang yang peka, hingga waktu belajarnya singkat. Ada yang tidak peka dan bebal, sehingga tidak pernah mengerti akan kehendak Allah. Sehingga hidupnya penuh dengan serangkaian penderitaan yang tidak perlu.
Seorang pilot yang berpengalaman 2.000 jam terbang akan berbeda keahliannya dengan yang berpengalaman 30.000 jam terbang. Pasangan yang baru menikah 2 tahun akan berbeda tingkat keharmonisan dan komunikasinya dengan yang sudah menikah selama 30 tahun. Perhatikan kehidupan penuh disiplin dan perjuangan dari para pahlawan iman: Abraham, Yakub, Yusuf, Musa, Daud, Daniel. Semua mengalami hal-hal tidak enak yang mendisiplin hidup mereka sehingga mereka makin kudus dan berkenan kepada Allah. Juga semua murid Yesus. Dari 11 orang yang sisa, hanya rasul Yohanes yang berumur panjang, karena mendapat tugas khusus untuk diasingkan di Pulau Patmos dan menulis kitab Wahyu. Sisanya mati sahid.  Saya bukan penganut Teologi Penderitaan. Tapi kita harus dewasa dan bertanggungjawab sebagai seorang penatalayan (steward) yang sudah dipercayakan Tuhan (Mat. 25:20, 22). Kalau pola berpikir kita serupa dengan Kristus, kita akan kuat dan tangguh seperti tentara atau atlit yang terlatih dalam menghadapi segala sesuatu, siap dan bersukacita dalam melakukan kehendak-Nya.
Meskipun melayani dalam waktu yang singkat, 3,5 tahun, pengalaman Yesus begitu jauh, luas  dan mendalam. Semakin bertambah pengalaman Yesus, semakin kuat Ia menghadapi berbagai masalah. Perhatikan pernyataan Rasul Paulus kepada jemaat di Ibrani:
Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai (Ibrani 2:17-18).
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (Ibrani 4:15)
Sebagai Imam Besar yang turut mengambil bagian dalam natur manusia kita, Ia mampu menolong kita dalam kelemahan kita. Karena Yesus sudah mengalami semua itu sebagai manusia, maka Ia mengerti segala perasaan takut, ragu, pergumulan melawan dosa dan keinginan sendiri, masalah-masalah berat, dan segala jenis penderitaan yang kita hadapi sebagai seorang manusia. Yesus ingin kita meneladani Dia (Yoh. 13:15; 1 Pet. 2:21). Sebagai teladan bagi kita, Ia juga sudah diperlengkapi dengan sempurna oleh Allah Bapa untuk menjadi Bapa Pembimbing kita.
Melakukan:
·         Apakah 9 variasi buah Roh Kudus semakin bertumbuh setiap hari dalam kehidupan kita? Sahabat, buah Roh hanya akan bertumbuh melalui ketaatan akan Firman Tuhan dan disiplin dalam melaksanakannya. Tidak ada jalan pintas. Memang berat. Tapi itulah gunanya kita dipilih Allah. Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: (1Petrus 2:9).
·         Apabila saat ini ada diantara kita yang mengalami disiplin baik oleh Allah maupun oleh tindakan kita sendiri. Pelajaran apakah yang bisa kita petik sehingga kita bertumbuh dengan pola yang benar?
·         Apakah ada suatu kebiasaan dimana kita harus bertobat atau melakukan tindakan pencegahan?
·         Jangan kuatir atau merasa tidak mampu karena Allah Bapa ( Rm. 16:25; Ef. 3:16; 1Tes. 3:13; 2Tes 3:3; 1Tim. 1:12; 2Tim. 4:17) dan Roh Kudus (Yoh. 14:26; 1 Tes.1:5) akan selalu menguatkan dan menghibur kita.
Membagikan:
Bagikan pengalaman Anda kepada sesama rekan di Kelompok Sel; ketika mengalami pola pertumbuhan dalam keempat bidang di atas.



[i] Lihat pengakuan Iman Rasuli.

[ii] Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo (juga dieja Kho Ping Ho, Hanzi: 許平和; pinyin: Xǔ Pínghé, lahir di Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926 meninggal 22 Juli 1994; adalah penulis cersil (cerita silat) yang sangat populer di Indonesia. Kho Ping Hoo dikenal luas karena kontribusinya bagi literatur fiksi silat Indonesia, khususnya yang bertemakan Tionghoa Indonesia. Lihat:  http://id.wikipedia.org/wiki/Kho_Ping_Hoo

[iii] Lihat tulisan Sinclair Ferguson dalam bukunya Grow in Grace, Banner of Truth, Edinburg, England, (December 1, 1989). Chapter 2.    Prof. Sinclair Ferguson (lahir 1948) adalah seorang Teolog beraliran teologi Reformed dalam pengajaran, tulisan dan sebagai editor. Setelah sempat menjadi pengajar dengan posisi di Charles Krahe Chair for Systematic Theology di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, USA, ketika buku ini diterbitkan, ia masih menjadi professor di Redeemer Seminary di Dallas, Texas, USA.

[iv] Lihat buku karangan Pdt. KAM. Jusuf Roni, Dihambat Tapi Merambat, Andi Offset, Yogyakarta, 2001.

[v] Ada 10 negara yang sudah melegalkan pernikahan sesama jenis (GBLT = Gay, Bisexual, Lesbian & Transgender),  sejak tahun 2001-2010 dan memberikan perlindungan kepada mereka. 1. Belanda. Belanda merupakan negara pertama yang melegalkan dan mencatat pernikahan sesama jenis sejak tahun 2001. 2. Belgia.  Belgia melegalkan pernikahan sesama jenis sejak tahun 2003. 3. Spanyol.  Mulai tahun 2005. 4. Kanada.  Setelah Spanyol melegalkan pernikahan sejenis, tidak lama kemudian Kanada menyusul. 5. Afrika Selatan. Setahun kemudian, giliran Afrika Selatan melegalkan pernikahan sesama jenis. 6. Norwegia.  Norwegia menambah daftar negara Eropa yang melegalkan pernikahan sesama jenis.  7. Swedia.  Tahun 2009, merupakan tahun bersejarah bagi kaum penyuka sesama jenis di negara Swedia lantaran mereka akhirnya bisa meresmikan dan mencatat pernikahan mereka di kantor catatan sipil. 8. Portugal.  Portugal mengakui pernikahan sesama jenis pada tahun 2010. 9. Islandia.  Negara ini menyusul Portugal menjadi negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis di tahun 2010. 10. Argentina.  Argentina juga melegalkan pernikahan sesama jenis di tahun 2010.         Tindakan pengesahan ini diikuti oleh negara-negara lain. Baca berita pengesahan undang-undang sesama jenis di negara Skotalndia.  http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/07/120725_skotlandia_sesamajenis.shtml  Di negara Denmark. http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/06/08/m5a3kh-astaghfirullah-denmark-sahkan-uu-perkawinan-sejenis. Di Amerika Serikat. Presiden Obama sudah mengesahkan pernikahan sesama jenis. http://internasional.kompas.com/read/2012/05/10/09323017/Obama.Dukung.Perkawinan.Sesama.Jenis  http://articles.cnn.com/2012-05-09/politics/politics_obama-same-sex-marriage_1_gay-marriage-civil-unions-word-marriage?_s=PM:POLITICShttp://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2012/05/09/sot-obama-same-sex-marriage.cnn?iref=allsearch

[vi] Tunagrahita adalah keadaaan keterbelakangan mental, keadaan ini dikenal juga retardasi mental (mental retardation). Nama lain adalah: Lemah pikiran (Feeble Minded), Terbelakang mental (Mentally Retarded), Bodoh atau dungu (Idiot), Pandir (Imbecile), Tolol (Moron), Oligofrenia (Oligophrenia), Mampu Didik; Anak pada kelompok mampu didik ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar. (Educable), Mampu Latih (Trainable), Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat, Mental Subnormal, Defisit Mental, Defisit Kognitif, Cacat Mental, Defisiensi Mental, Gangguan Intelektual.

[vii] Simulation is the imitation of the operation of a real-world process or system over time. [Lihat karangan J. Banks, J. Carson, B. Nelson, D. Nicol (2001). Discrete-Event System Simulation. Prentice Hall. p. 3. ISBN 0-13-088702-1.] The act of simulating something first requires that a model be developed; this model represents the key characteristics or behaviors of the selected physical or abstract system or process. The model represents the system itself, whereas the simulation represents the operation of the system over time.  Simulation is used in many contexts, such as simulation of technology for` performance optimization, safety engineering, testing, training, education, and video games. Training simulators include flight simulators for training aircraft pilots to provide them with a lifelike experience. Simulation is also used with scientific modelling of natural systems or human systems to gain insight into their functioning. [ Lihat karangan J.A. Sokolowski and C.M. Banks,. Principles of Modeling and Simulation. John Wiley and Sons, Hoboken, New Jersey, 2009. p. 6.] Simulation can be used to show the eventual real effects of alternative conditions and courses of action. Simulation is also used when the real system cannot be engaged, because it may not be accessible, or it may be dangerous or unacceptable to engage, or it is being designed but not yet built, or it may simply not exist.

About Stephanus Tedy

About Stephanus Tedy

Visitor Counter

Copyright © 2004-2024